Jumat, 09 Mei 2014

GELAR PENGUASA ADAT DI TORAJA DAN ASAL-USULNYA

ASAL USUL GELAR PENGUASA ADAT DI TORAJA
Penduduk yang pertama – tama menguasai Tondok Lepongan Bulan Tana Matari’ Allo, yg kini kita kenal sbg TANA TORAJA berasal dari luar daerah Sulawesi Selatan dan diperkirakan datang sekitar abad ke-6. Mereka datang dengan menggunakan perahu melalui sungai-sungai besar menuju Pegunungan Sulawesi Selatan yang akhirnya menempati daerah dataran tinggi, termasuk Toraja. Hal ini sesuai dengan fakta sejarah yang ada, yang mengatakan kebanyakan dari mereka datangnya dari Selatan Tana Toraja.
Mereka datang dalam bentuk kelompok – kelompok yang dalam sejarah Toraja disebut ARROAN (kelompok manusia), menyusuri sungai sungai dengan menggunakan perahu, dan setelah itu mereka tidak bisa lagi menggunakan perahu karena derasnya air dan berbatu. Maka mereka menambatkan perahunya di pinggir sungai dan tebing-tebing kemudian menjadi tempat tinggal sementara (dari sinilah muncul istilah “Toma’ Banua di Toke’ “). Arroan itu kemudian berjalan menuju pegunungan dan bermukim tetap di sana.
Menurut sejarah Toraja, tiap Arroan ini dipimpin oleh AMBE’ Arroan (Ambe’ = bapak; Arroan = Kelompok Manusia). Arroan – arroan ini rupanya tidak datang sekaligus tetapi beberapa kali dan masing – masing Arroan menempati tempat tertentu untuk menyusun persekutuan keluarga masing – masing di bawah pimpinan Ambe’ Arroan. Lama kelamaan anggota dari Arroan – arroan itu bertambah banyak dan perlu memiliki tempat tinggal yang lebih luas, sehingga anggota Arroan berpencar mencari tempat yang baru dalam bentuk kelompok yang lebih kecil yang disebut PARARRAK (Pararrak = Penjelajah) dengan dipimpin oleh PONG Pararrak (Pong = Utama = Pokok), jadi Pong Pararrak artinya Pimpinan Penjelajah.
Inilah yang menyebabkan adanya Gelar AMBE’ yang kemudian menjadi Sia Ambe’ (Siambe’) dan Gelar PONG yang tersebar luas di Toraja selanjutnya kemudian kedua gelar ini dipadukan karena sumbernya hanya satu yaitu menjadi nama/gelar Penguasa Adat, seperti kemudian kita mengenal :
- Siambe’ Pong Simpin
- Siambe’ Pong Maramba’
- Siambe’ Pong Tiku
- Siambe’ Pong Palita
- Siambe’ Pong Panimba
- Siambe’ Pong Masangka, dll....
Dengan meratanya daerah yang telah dikuasai oleh penyebaran Arroan dan Pararrak, maka seluruh pelosok pegunungan dan daratan tinggi sudah terdapat penguasa – penguasa kecil dari turunan Ambe’ dan Pong yang perkembangannya sangat nampak dalam masyarakat Toraja sampai sekarang di samping Gelar Penguasa lainnya. Beberapa lama keadaan berjalan demikian maka dimana-mana sudah terdapat Penguasa Ambe’ dan Pong Pararrak, dan tersusunlah persekutuan-persekutuan adat kecil.
Kemudian dari selatan datang pula gelombang penguasa baru juga dengan menggunakan perahu melalui sungai. Penguasa – penguasa baru ini datang dengan pengikut – pengikutnya yang dikenal dengan nama PUANG-PUANG Lembang (Puang = yang empunya; lembang = perahu), Puang Lembang artinya yang empunya perahu. Mereka kemudian menempati daerah Bambapuang (daerah selatan Toraja yang masuk ke dalam administrasi pemerintahan Kab. Enrekang saat ini). Penguasa – penguasa ini mempunyai tata masyarakat tersendiri dan memiliki cara pemerintahan tersendiri, namun mereka masih dalam kelompok kecil di daerah Bambapuang. Dari sini pula mereka kemudian menyebar ke daerah lain dan menjadi penguasa daerah yang ditempatinya, serta tidak lagi dikenal sebagai Puang Lembang (Empunya Perahu) melainkan berubah menjadi Puang dari daerah yang dikuasainya, misalnya
- Puang ri Buntu ( penguasa daerah Buntu)
- Puang ri Tabang (penguasa daerah Tabang)
- Puang ri Batu (penguasa daerah Batu)
- Puang ri Su’pi’ (penguasa daerah Su’pi’) dll.
Setelah para Puang yang menguasai tiap tempat makin bertambah banyak pengikutnya, maka timbullah persaingan kekuasaan di antara mereka, dimana sebagian Puang mulai merebut daerah kekuasaan Pong Pararrak atau Ambe’ Arroan yang lebih dulu memiliki kekuasaan, dan menimbulkan kekacauan dalam masyarakat. Hal ini membuat sebagian Puang membujuk Pong Pararrak dan Ambe’ Arroan untuk bersekutu untuk melawan Puang yang lain. Persekutuan ini kemudian disebut BONGGA (Bongga = besar = hebat = dahsyat). Sebagai pimpinan Bongga maka diangkat Puang yang kuat di antara mereka yang dalam kedudukannya dinamakan Puang Bongga (yang empunya kekuasaan yang kuat dan hebat), seperti yang terkenal dalam sejarah Toraja seorang penguasa Bongga yang terkenal adalah Puang Bongga Erong.
Timbulnya persekutuan ini menimbulkan pergeseran serta perubahan di sekitar Bambapuang, yang dalam perkembangannya kemudian muncul seorang penguasa Bongga yang terkenal yang mengadakan perombakan besar di Bambapuang yaitu Puang Londong di Rura, yang mempunyai cerita dalam masyarakat Toraja sebagai seorang yang lalim, keras hati, dan mendapat kutukan dari Puang Matua.
Karena persaingan yang begitu hebat dan terus – menerus di kalangan Puang – Puang ini, maka pengaruh dari penguasa Puang di daerah Bambapuang makin merosot, apalagi setelah terjadi perpindahan beberapa Puang ke bagian utara Bambapuang untuk mencari tempat yang lebih aman untuk menerapkan pemerintahannya. Tetapi berbeda dengan Pong Pararrak yang ada di bagian utara, tidak terjadi persaingan karena masing – masing menguasai daerah yang sudah ditempatinya.
(Ref : J.S. Sande, Sastra Toraja Klasik : Folktales in Toraja, with translation in Indonesian,"PPS)

Sabtu, 05 April 2014

PASSURA’ SEBAGAI SUMBER SEJARAH DAN HISTORIGRAFI TORAJA



Etnis toraja termasuk salah satu suku bangsa Indonesia yg tdk mengembangkan aksara tulisan dalam bentuk teks verbal. Oleh karena itu  secara metodologis ada rintangan bagi sejarawan untuk merekonstruksi masa lalu toraja bila hanya mengandalkan sumber dokumen tertulis berbentuk arsip. Bagi yg berpaham ekslusivisme dgn mudah dpt menggunakan prinsip, “tdk ada dokumen tertulis tdk ada sejarah”.. akibatnya lenyaplah masa lalu toraja yg unik. Meskipun tdk meninggalkan dokumen tertulis, tdk berarti etnis toraja tdk menyimpan aktualisasi masa lalunya. Selain penuturan lisan, passura’ yg terdapat pada bangunan adat tongkonan dan benda budaya lainnya, merupakan teks gambar yg terseleksi atau tepatnya aktualitas yg terdokumentasi dgn baik berdasarkan hasil konvensi leluhur masyarakat toraja.
Etnis toraja selalu menyebut bangunan adatnya sebagai banua passura’, yg bisa diartikan sbg depot arsip, penuh dgn teks gambar yg berderet panjang dan penuh arti.
Gambaran dlm passura dipilih sedemikian rupa dan tampak merupakan bagian dari kehidupan masyarakat toraja masa lalu.
Terdapat lebih kurang 125 motif gambar passura yg pernah diciptakan yg masing-masing menggambarkan realitas kehidupan dan 75 motif hanya dikhususkan untuk bangunan Tongkonan. Berdasarkan penelitian terakhir dari jumlah itu ada yg tdk dapat ditemukan lagi.

Etnis toraja mengklasifikasikan gambar passura ke dalam 4 kategori berdasarkan ketentuan adat turun temurun. :
1.   Garonto’ passura’, yaitu gambar utama dan dianggap sbg pangkal atau dasar untuk memahami budaya toraja
2.   Passura Todolo,  dianggap sbg realitas penggambaran hidup ketika seseorang berusia dewasa terutama yg telah berkeluarga sampai kakek-nenek.
3.   Passura malollle’, yakni penggambaran realitas  hidup kelompok remaja muda-mudi sebelum mereka membangun rumah tangga.
4.   Passura Pa’barrean, dianggap sbg penggambaran berbagai aneka kehidupan yg berhubungan dgn suasana yg penuh kegembiraan dan kesenangan.

MEMBACA PASSURA DAN MENGHADIRKAN MASA LALU

Bagaimana sebuah teks passura yg berasal dari masa lalu dpt dibaca dan dipahami maksud yg tersimpan di baliknya, sangat dipengaruhi oleh cara berpikir seni rupa. Mengikuti cara berpikir seni rupa, dapat dijelaskan empat motif passura sbb :
1.   Pa’ Barreallo (Pembagian wilayah di toraja)
2.   Kendaraan  (Pa’tedong Patikek)
3.   Kemanusiaan (Pa’ kapu’ baka)
4.   Larangan-larangan (Pa’ daun paria).

1.   Pa’ Barreallo.
Subyek gambar menyerupai matahari, ada 4 garis lingkaran penuh. Dimulai dari garis lingkaran berwarna merah tipis yg berdimeter paling besar menyentuh keempat tepi bidang panel, kemudian di dalamnya ada lingkaran kedua berwarna putih. Lingkaran ketiga berwarna merah lebih tebal dari yg pertama, Lingkaran keempat berdiameter paling kecil, berwarna putih dilengkapi dgn bentuk segitiga berwarna merah di titik focus. Batas keempat lingkaran itu
ditambah sejumlah garis lengkung berwarna kuning mengikuti lingkaran. Lingkaran keempat berdiameter paling kecil, berwarna putih dilengkapi dgn bentuk segitiga berwarna merah di titik focus. Batas keempat lingkarn itu adalah ruang kosong berwarna hitam juga membentuk lingkaran bayangan. Komposisi keseluruhan subyek menampakkan pembagian bidang yg simetris secara horizontal, vertical dan diagonal dan ini diartikan mengacu kepada pembagian wilayah di Toraja, yakni :
a.    Lingkaran pertama adalah wilayah adat “Lembang” (perahu), yg berdaulat ke dalam dan dipimpin oleh penguasa bergelar “Ambe’ Lembang atau Puang Lembang”. Warna yg digunakan adalah merah darah, yaitu warna asal leluhur dari utara.
b.   Lingkaran kedua berwarna putih tulang, yaitu warna keturunan dan dinamakan wilayah “BUA’ “ (kandungan) dipimpin oleh penguasa adat bergelar “Ambe’ Bua’ “.
c.    Lingkaran ketiga adalah wilayah federasi atau wilayah gabungan yg dinamakan “Penanian”. Federasi digambarkan dgn garis-garis melengkung berwarna kuning. Daerah federasi dikoordinir oleh seorang anggota adat yg bergelar “To Parengnge””.
d.   Lingkaran keempat dinamakan wilayah “Tiku Padang” (seperempat bagian). Digambarkan dgn bangunan segitiga, dipimpin oleh beberapa orang yg bergelar “To Patalo” yg bertugas membantu To Parengnge’.


2. PA’TEDONG
 
Motif passura’ ini bisa digambarkan sbg kendaraan (berjalan dan terbang). Subyek gambar mempresentasikan tema dunia hewan dgn penggabungan 3 organ tubuh. Tanda kerbau dikenali melalui tanduknya, babi  melalui taringnya, kambing dan ayam melalui daun telinga dan sayapnya.
Subyek gambar menggunalan warna hitam dan untuk memperjelas tampilan bentuk digunakan garis kontur berwarna putih, sehingga wujud sosok hewan yg memiliki raut wajah seperti silhouette berwarna hitam yg keluar dari kegelapan. Sedikit warna kuning dan merah pada biji dan kelopak mata untuk makin memperjelas hadapannya. Komposisi keseluruhan gambar menampakkan pembagian bidang simetris hanya secara vertikal, yg menghasilkan gambar abstrak berkesan magis religious. Pemakaian atribut mahkota dan bola mata memperjelas bhw binatang itu memiliki kekuatan supranatural. Latar subyek menggunakan warna hitam sbg warna kegelapan dan kematian sangat kontras dgn warna putih terang cemerlang dan mengandung kesucian. Berdasarkan kesan magis religious yg ditampilkan melalui bentuk abstrak serta penggunaan warna hitam yg dominan, maka motif passura’ ini mengacu kepada ide akan hewan persembahan yg berfungsi sbg “Kendaraan Arwah” .
Cita-cita bagi penganut agama leluhur adalah bersatu dgn arwah nenek moyang yg pertama, yaitu “Puang Matua” di negeri “Puya”, dan untuk mencapai negeri itu diperklukan kendaraan arwah. Dalam rangka memobilisasi kendaraan arwah maka segenap keturunannya perlu mengorbankan sebanyak mungkin hewan agar orang yg meninggal bisa sampai dgn selamat ke negeri puya menjadi “To mebali puang” agar dpt memberkahi keturunannya yg masih hidup.
3. PA’KAPU’ BAKA
 
Artinya menyerupai simpul mati penutup wadah. Motif passura’ ini mengetengahkan tema kemanusiaan.
Sbg simpul tertutup maka subyek utama adalah sesuatu yg bernilai dan sangat dirahasiakan. Subyek menggunakan dominan warna putih, dalam bentuk lingkaran terputus, garis lonjong, garis terurai dan niktah-noktah yg menyebar. Warna merah dipakai untuk membentuk garis lengkung dan garis bersudut dan segi empat. Warna pelengkap yaitu kuning, digunakan sangat minim pada bagian tengah di 4 tepi sisi panel. Warna hitam digunakan sbg warna latar belakang. Komposisi keseluruhan dalam penempatan subyek menampakkan pembagian bidang yg simetris secara vertikal, horizontal dan diagonal.
Ditinjau dari aspek rupa, penggunaan warna putih dan merah bermaksud untuk memperjelas tampilan bentuk dan dikontraskan dgn warna hitam sbg warna latar.
Dalam lingkaran warna putih terliha bentuk yg menyerupai vagina wanita, sedang yg di tengah lingkaran merah terdapat bentuk yg menyerupai zakar pria. Bentuk tersebut menimbulkan kesan pornografi. Namun, fokus pandangan terletak pada garis silang yg ada di bagian tengah bidang gambar.
Kesan pornografi yg ditampilkan mengacu kepada suatu larangan dalam kehidupan masyarakat toraja. Larangan seperti terlihat pada bayangan garis diagonal (hitam) yg “tersilang” tepat di tengah bidang panel. Lingkaran putih (melingkupi vagina wanita) yg menjalin dua lingkaran merah (melingkupi zakar pria) menyampaikan informasi bhw seorang wanita toraja tdk dibolehkan bersuami lebih dari satu orang laki-laki dan teknik tumpuk mengandung
Arti bhw dalam segala hal wanita tdk dibenarkan berada di atas posisi laki-laki.
4. PA’DAUN PARIA
 
Artinya sepahit daun peria. Kuncup bunga dan daun peria berwarna putih memberi kesan kesucian seorang gadis remaja dan kebanggaan keluarga, namun kesucian ini akan berubah menjadi kedukaan bila tenggelam ke dalam lingkaran dunia hitam dan gelap. Tidak hanya kepada gadis remaja, wanita pada umumnya yg dicisulalisasikan dgn bentuk vagina akan mengalami hal yg sama bila tenggelam dalam dunia kegelapan. Hal demikian perlu ditekankan oleh karena gambar vagina wanita pada dasarnya adalah keinginan (santapan) laki-laki yg setiap saat dapat mengancam.





Kamis, 27 Maret 2014

PENGURBANAN MANUSIA (MA’ BARATA) PADA ACARA RAMBU SOLO’ DI TORAJA

Kurban manusia (Barata) pada upacara Rambu Solo’ di toraja berlangsung hingga masuknya Pemerintah Kolonial Belanda ke Toraja. Ritual pengurbanan manusia itu disebut Pa’ Barata, yakni suatu tradisi yg dilakukan sebagai penghormatan akan kepahlawanan/keberanian dari seorang bangsawan dan para pahlawan dalam perang To Pada Tindo serta perang saudara lainnya pada permulaan abad ke-17. Ma’ Barata bukanlah persyaratan dalam Alukta, tetapi hanya sebagai tradisi sehingga dilarang sejak masuknya Belanda.
Adat Ma’ Barata ini hanya dilakukan pada upacara Rapasan, dimana seorang yang menjadi kurban Barata diikat tangannya dan ditambatkan pada Simbuang Batu lalu kemudian kepalanya dipancung. Kurban Barata ini boleh laki – laki atau wanita yang ditangkap (tawanan) saat perang atau jika tidak ada perang maka pencarian calon kurban dilakukan  dengan cara “Mangaun” (mengintip untuk menangkap) dari orang – orang yang telah disepakati oleh para Topadatindo atau para peminpin peperangan lainnya. Menurut kesepakatan Topadatindo yg dipegang oleh penerusnya, yg menjadi korban mangaun adalah orang-orang yg tidak ikut berpartisipasi dlm persatuan melawan Arung Palakka ( To Ribang La’bo’, To Simpo Mataran) yg berasal dari daerah “Karunanga”, suatu daerah yg terletak di bagian utara pegunungan Toraja. Orang – orang inilah yg selalu menjadi buruan pada setiap saat ada rencana Ma’ Barata, itupun melalui pertarungan, karena orang yg diburu selalu mengadakan perlawanan dengan mati-matian.




Oleh karena sering terjadi perkelahian yg hebat dalam menangkap Kurban Barata, maka apabila tdk dpt ditangkap hidup-hidup sering terpaksa hrs dibunuh dan diambil kepalanya untuk dibawa ke tempat Upacara Pemakaman sebagai tanda bahwa orang yg mati itu sudah diberikan Kurban Manusi. Sebagai tanda peranannya dimasyarakat pada masa hidupnya, orang yg diupacarakan dengan adanya Kurban Barata ini dinamakan To dipa’baratan.

Saat ini masih ada tongkonan di Toraja yg menyimpan Kepala/tengkorak Manusia Kurban Barata atau kepala yang dirampas dalam perang saudara, sebagai tanda bahwa turunan dari tongkonan ini adalah turunan pemberani serta leluhurnya dahulu ada yg dimakamkan dengan upacara adat Barata dan Tongkonan itu merupakan Tongkonan Penguasa yg Pemberani....
(dari berbagai sumber)….

RAMBU SOLO’ DALAM KEYAKINAN ALUK TODOLO (RELEVANSINYA KINI)


Salah satu budaya toraja yang terkenal dan senantiasa menarik perhatian wisatawan, adalah “rambu solo’” yaitu adat istiadat disekitar upacara kematian dan penguburan. Upacara yang berlatarbelakang kepercayaan politeis ini mengandung nilai budaya yang tinggi dan sangat bernilai bahkan begitu mengikat masyarakat Toraja. Permasalahan mulai terjadi ketika pemberitaan Injil mulai masuk ke toraja. Perjumpaan ini menyebabkan terjadinya benturan antara kebenaran-kebenaran Kristiani dengan berbagai konsep dan ritual dalam upacara rambu solo’. Ketegangan yang masih terus berlanjut hingga kini menuntut gereja toraja perlu tegas (tidak sinkretis) memikirkan keterlibatannya dalam pemeliharaan kebudayaan toraja. Mana yang perlu dipertahankan dan mana yang harus dihilangkan perlu penjelasan secara komprehensif mengenai upacara rambu solo’ untuk kemudian dapat menolong kita mengambil sikap yang tepat dan benar ditengah-tengah ketegangan yang terjadi.
Untuk menuntun kita memahami mengenai rambu solo’ dalam keyakinan aluk todolo terlebih dulu perlu memahami hal-hal berikut :
1. Tempat Rambu Solo’ dalam Konfigurasi Budaya Toraja
2. Konsepsi Dasar Upacara Rambu Solo’
3. Tingkatan-tingkatan dalam Pelaksanaan Rambu Solo’
4. Simbol-simbol Upacara Rambu Solo’.

1. TEMPAT RAMBU SOLO DALAM KONFIGURASI BUDAYA TORAJA
Mitos toraja, menceritakan pada mulanya langit dan bumi masih bersatu. Ketika langit dan bumi berpisah, lahirlah tiga dewa yaitu: Pong Tulak Padang, Pong Bangga-irante, dan Gaun Tikembong. Ketiga dewa ini dikenal sebagai Puang Titanan Tallu, Tirindu Batu Lalikan (Tri dewa). Mereka yang menciptakan matahari, bulan dan bintang.
Gaun Tikembong kemudian mengambil sebuah rusuknya dan menjadikan dewa yang disebut: Usuk Sangbaban, yang kemudian kawin dengan Simbolon Manik yang keluar dari batu kemudian melahirkan Puang Matua. Puang Matua kawin dengan Arrang di Batu, dan dari perkawinan inilah Puang Matua melanjutkan proses penciptaan dengan kelahiran delapan orang anak kembar “Sauran sibarrung” (pupulan kembar) yaitu: Datu Laukku sebagai nenek moyang manusia; Allo Tiranda sebagai nenek moyang racun; Laungku sebagai nenek moyang kapas; Pong Pirik-Pirik sebagai nenek moyang hujan; Menturini sebagai nenek moyang ayam; Menturino sebagai nenek moyang kerbau, Riakko sebagai nenek moyang besi, Takkebuku sebagai nenek moyang padi.
Puang Matua kemudian menurunkan manusia pertama ke bumi yaitu Puang Bura Langi’. Ia kawin dengan wanita yang berasal dari dalam air bernama Kembong Bura. Dari perkawinan ini lahir keturunan manusia pertama di bumi (Pong pamula Tau). Kedatangan Puang Bura langi ke bumi juga dikawal oleh hambanya, Pong Pakulandi dengan memikul Aluk serba lengkap, yang disebut Aluk 7777777 atau Aluk Sanda Pitunna (serba tujuh/all around seven). Keturunan Puang Londong di Rura diceritakan sebagai manusia pertama di dunia yang melanggar Aluk yang dibawa oleh nenek moyangnya. Ia sangat kaya mempunyai empat orang anak, dua laki-laki dan dua perempuan. Karena takut hartanya lari pada orang lain, ia mengawinkan anak-anaknya menjadi pasangan suami-istri. Akibat pelanggaran terhadap Aluk yang merupakan tata aturan sosio religius, maka ia ditenggelamkan oleh Puang Matua. Eran di Langi (eran: tangga, langi’: langit) yang menghubungkan dunia dan langit diruntuhkan. Ini bermakna simbolik bahwa hubungan manusia dengan dewa-dewa menjadi terputus sama sekali.

Dari cerita ini, jelas bhw dalam kepercayaan aluk todolo, prinsip totalitas menjadi dasar untuk memahami fenomena sosio-kultural dan sisio religius. Segala sesuatu di dalam kosmos dianggap berhubungan secara organis dan tidak dapat dipisahkan secara nyata. Puang Matua merupakan pusat totalitas itu, tetapi dalam keyakinan Aluk Todolo, ia hanyalah merupkan latar belakang saja (Deus Otiosius). Ia tidak mempengaruhi kehidupan manusia secara aktif. Ia bertempat tinggal di langit, berkuasa, terlalu jauh, tidak terhampiri walaupun menaungi alam semesta serta abadi. Ia adalah primus inter pares (yang pertama di antara yang sederajat) di antara dewa-dewa lainnya. Karena itu namanya baru disebut dalam ritus-ritus pemujaan pada upacara-upacara besar, seperti ma’bua’ atau merok.
Bertolak dari kosep totalistik ini maka semua tatanan kehidupan tidak terlepas dari nilai-nilai religius menjadi ultimate value bagi seluruh kehidupan , dan aluk adalah sumber dan akar dari seluruh tatanan sosial budaya Toraja baik dalam dimensi material maupun spiritual. Aluk mempunyai pegertian yang sangat luas yaitu:[1] dalam Agama, hal berbakti kepada ilah atau dewa; yang kedua dalam upacara adat atau agama, dan ketiga, dalam perilaku dan tingkah laku.
Aluk sanda pituna (aluk 7777777) menjadi filsafat hidup orang Toraja. Dimana manusia Toraja memandang kehidupannya sebagai suatu siklus atau suatu lingkaran yang tidak dapat diulangi. Tujuan hidup ialah kembali ke asalnya setelah segala ritual dipenuhi. Aluk 777777 yang bermakna sempurna mencakup semua bidang kehidupan antara lain:
1. Aluk Simuane Tallang (ritual-religius berpasangan) yang terdiri dari:
- Aluk Rambu Tuka’ (aluk rampe matallo), yaitu ritual-religius kesukaan.
- Aluk Rambu Solo’ (aluk rampe matampu’) yaitu ritual-religius kedukaan
2. Aluk Talu Lolona yaitu: ritual religius yang berhubungan dengan tiga makhluk hidup:
- Alukna Lolo Tau (yang menyangkut kehidupan manusia)
-Alukna Lolo Tananan (yang menyangkut tanaman)
- Alukna Lolo Patuoan (yang menyangkut hewan)
3. Aluk Rampanan Kapa (yang menyangkut perkawinan)
4. Aluk Banua (yang menyangkut bangunan rumah)
5. Aluk Padang (yang menyangkut tanah)
6. Alukna Uai (yang menyangkut air)
7. Aluk Tananan Pasa’ (yang menyangkut pasar).

Jadi seluruh tatanan kehidupan masyarakat Toraja diatur oleh aluk. Segala sesuatu didasarkan pada aluk, karena tanpa aluk kehidupan menjadi sia-sia. Yang melanggar aluk langsung mendapat hukuman dalam kehidupan ini. Hukuman ini hanya dapat dihapus dengan melakukan Massuru’ (penebusan dosa).

2. KONSEP DASAR UPACARA RAMBU SOLO’
Dalam keyakinan Aluk Todolo hidup dipahami sebagai suatu siklus yang tidak dapat diulangi. Itu berarti bahwa orang Toraja percaya adanya kontinuitas kehidupan setelah kematian. Kematian bukanlah akhir dari segalanya, tetapi ia berfungsi sebagai peralihan dari dunia nyata kepada dunia mistis. Filsafat ini dinyatakan dalam ungkapan pa’bongianri te lino, pa’gussali-salian lolo’ri kera’ pa’tondokan marendeng. Ungkapan ini mengandung arti bahwa dunia ini hanya tempat persinggahan untuk sementara. Kehidupan abadi terletak di luar kenyataan alam ini. Meskipun hanya untuk sementara, namun kehidupan di dunia ini mempunyai fungsi bahkan merupakan bagian integral dalam perjalanan hidup. Pengertian kontinuitas lebih dominan dari pada perubahan kualitatif. Sebab kualitas hidup di sini akan dilanjutkan di sana. Penghayatan dan pengamalan kehidupan di sini tidak boleh dianggap kurang penting sebab justru kehidupan di sinilah yang memberi warna serta menentukan kehidupan di sana. Cara menghayati dan mengamalkan kehidupan di sini dengan segala ritualnya bahkan hidup itu sendiri adalah ritual, sangat menentukan kebahagiaan di sini dan akan berlanjut di sana.
Salah satu upacara yang paling penting untuk maksud tersebut adalah upacara Rambu Solo’. Ritus-ritus di sekitar upacara Rambu Solo’ bersumber dari falsafah Aluk Todolo bahwa tujuan akhir dari lingkaran kehidupan ialah tempat dari mana kehidupan itu dimulai yaitu dari alam mistis transenden. Hal ini dapat terwujud jika semua ritus-ritus yang menjadi syaratnya terpenuhi (sundun). Salah satu wadah mewujudkan ritus tersebut adalah upacara Rambu Solo’. Kalau semua ritus itu lengkap maka arwah orang mati akan membali puang yang selanjutnya akan selalu mengawasi dan memberkati keluarga yang masih hidup. Sebaliknya kalau upacara tidak lengkap ia tidak akan membali Puang, sehingga arwahnya selalu gentayangan, mengganggu dan mengutuki keluarga.
Dalam rangka pemahaman tersebut di atas, dapat dimengerti kalau upacara Rambu Solo’ dalam masyarakat Toraja mendapat penekanan yang amat menonjol. Pengamatan modern yang sering mengatakan bahwa filsafat hidup orang Toraja adalah “hidup untuk mati”, pada satu pihak ada kebenarannya – apalagi jika hanya diamati sepintas dan dianalisis hanya berdasarkan observasi dari luar tanpa partisipasi – namun namun pada pihak yang lain dapat disimpulkan bahwa orang Toraja penuh dengan upacara-upacara religius. Pengorbanan dalam Rambu Solo’ mempunyai fungsi eskatologis mistis dalam artian bahwa kehidupan akhir (di alam mistis transenden) menentukan dan memberi corak kepada kehidupan di sini dan sebaliknya. Fungsi pengorbanan dalam Rambu Solo’ adalah dout des – saya memberi agar engkau memberi – artinya dalam hubungan dengan yang ilah/dewa atau arwah-arwah kita memberi sambil mengharapkan imbalan yang lebih besar.
3. TINGKATAN-TINGKATAN DALAM PELAKSANAAN RAMBU SOLO’
Dalam keyakinan Aluk Todolo orang yang sudah meninggal dunia tetapi belum diupacarakan masih dikategorikan tomakula’ (makula’=panas). Ia tetap dilayani oleh keluarganya sebagai mana layaknya melayani orang yang masih hidup.
Karena upacara Rambu Solo’ adalah bagian dari aluk (lesoan aluk) yang punya konsekuensi, sehingga pelaksanaannya harus memenuhi ketentuan-ketentuan yang berlaku dan yang ditetapkan untuk itu. Salah satu faktor yang menjadi dasar pelaksanaan upacara Rambu Solo’ adalah stratifikasi sosial yang dalam masyarat Toraja dibagi ke dalam empat kelompok:
➢ Tana’ Bulaan
➢ Tana’ Bassi
➢ Tana Karurung
➢ Tana’ Kua-kua

Dengan patokan kasta tersebut maka upacara Rambu Solo’ juga dikenal dalam empat tingkatan, yaitu:
a. Tingkat untuk golongan hamba atau budak (tana’ kua-kua):
➢ Dipasilamun Tallo’
➢ Didedekan Palungan/dikambuturan Padang
➢ Disilli’
➢ Dibai Tungga’
➢ Dibai A’pa
b. Tingkat untuk golongan orang merdeka (tana’ karurung)
➢ Diisi (diberi gigi),.
➢ Dipasangbongi
➢ Ma’tangke Patomali
c. Tingkat untuk golongan bangsawan menengah (tana’ bassi)
Untuk tingkatan ini, upacaranya dikenal dengan istilah dibatang. Untuk tingkatan ini masih ada dua kategori, yaitu:
➢ Dipalimang bongi (lima malam) yaitu upacara yang berlangsung lima malam. Jumlah kerbau yang dipersembahkan antara 5-7 ekor dan minimal 18 ekor babi.
➢ Dipapitung bongi (tujuh malam). Untuk kategori ini jumlah kerbau yang dipersembahkan antara 7-9 ekor dan minimal 22 ekor babi. Di daerah Tallu Lembangna (Makale, Mengkendek, Sangalla’) masih dikenal tingkatan yang disebut: dipapitung lompo (lompo=gemuk) dimana kerbau yang dipersembahkan 18 ekor dan babi minimal 32 ekor.
d. Untuk Upacara Dirapai’ masih dibagi dalam 3 tingkatan utama :
➢ Dilayu-layu.
➢ Rapasan Sundun
➢ Rapasan di baba gandang

Dari gambaran secara singkat tentang tingkatan upacara Rambu Solo’ dalam masyarakat Toraja, kita dapat memahami bahwa status sosial seseorang sangat menentukan bentuk dan tingkatan upacara Rambu Solo’ yang mesti dilakukan atas perintah aluk.

4. SIMBOL-SIMBOL UPACARA RAMBU SOLO
Yang dimaksud dengan simbol-simbol Rambu Solo’ di sini adalah pemaknaan terhadap semua atribut yang digunakan dalam upacara tersebut. Karena atribut yang digunakan dalam atribut Rambu Solo’ banyak sekali dan tidak sama untuk semua wilayah adat di Toraja, maka hanya di angkat beberapa di antaranya yang di anggap penting. Hal-hal yang dimaksud adalah:
Tongkonan
Tongkonan adalah rumah adat dari satu rumpun keluarga (marga) dimana persekutuan darah daging dipelihara . Tongkonan adalah tempat pembinaan dan pemeliharaan aluk. Disamping itu Tongkonan juga berfungsi sebagai sumber wibawa kepemimpinan. Ia bermakna simbolik sebagai lembaga kekuasaan, kebesaran dan kemuliaan sang pendiri juga keturunan yang dibangun di atas keunggulan, prestise dan privilise tertentu. Setiap orang harus mengetahui dari tongkonan mana ia berasal, baik dari pihak ibunya maupun dari pihak ayahnya. Oleh karena tongkonan mengikat seluruh keluarga, maka bila ada upacara yang dilaksanakan, baik Rambu Solo’ maupun Rambu Tuka’, maka upacara tersebut harus dilaksanakan di rumah tongkonan itu dan semua keluarga diharapkan hadir.

Pakaian
Dalam upacara rambu solo’ pakaian yang digunakan adalah pakaian yang berwarna hitam. Warna hitam adalah simbol kekelaman atau kedukaan. Oleh karena itu dalam suatu upacara Rambu Solo’ keluarga dan semua orang yang datang ke tempat itu umumnya menggunakan kain berwarna hitam. Di samping itu digunakan juga pula pote yaitu tali dari benang berkepang yang ujungnya berumbai dan pada rumbai itu tercocok manik-manik. Pote ini dipakai pada keluarga yang sedang maro’. Selain pakaian warna hitam, digunakan juga pakaian warna merah (lambang kemuliaan) untuk menghias pondok-pondok atau peti jenasah, khususnya pada upacara rambu kaum bangsawan menengah ke atas.

Ukiran dan Hiasan-hiasan
Pada upacara Rambu Solo’ tingkat rapasan, rumah, halaman dan pondok serta peti jenasah diberi ukiran dan hiasan-hiasan yang semuanya bermakna melambangkan kebesaran yang meninggal dunia. Hiasan-hiasan dan ukiran-ukiran yang digunakan dalam Rambu Solo’ dimaksudkan sebagai pengantar arwah untuk memasuki dunia seberang yaitu puya. Oleh karenea itu, kesemarakan suasana dalam pelaksanaan upacara Rambu Solo’ diyakini oleh penganut Aluk Todolo sebagai kesempurnaan si mati memasuki puya. Jadi jelas segala ukiran dan macam hiasan yang digunakan dalam upacara Rambu Solo’ mempunyai simbol “proyeksi” mesuknya sang arwah ke dunia seberang sana. Ukiran dan hiasan yang biasa digunakan pada upacara Rambu Solo’ pada bermacam-macam, namun di sini hanya akan dipaparkan beberapa di antaranya, yaitu:
- Saringan (palaidura) yaitu usungan mayat yang dibuat dari kayu.
- Langi’-langi’ berbentuk rumah mini Toraja yang dipasangkan pada saringan (pelengkap saringan) dan bermakna sebagai simbol kebesaran.
- Duba-duba (lamba-lamba) yaitu kain merah yang direntangkan panjang-panjang di atas kepala wanita ketika mayat sedang dalam arak-arakan dari rumah duka ke tempat pelaksanaan upacara (ma’pasonglo’/ma’palao)
- Lakkean yaitu pondok yang dibuat ditengah-tengah tempat pelaksanaan upacara sebagai tempat mayat disemayamkan selama upacara berlansung. Pondok ini dibuat dengan ketinggian kurang lebih 10 meter dan dilengkapi dengan segala macam hiasan-hiasan/ ukiran yang melambangkann kebesaran.
- Tombi yaitu kain berukir yang menyerupai panji-panji yang dipasang pada sekitar tempat pelaksanaan upacara.
- Bala’kayan yaitu menara yang dibuat dekat dengan lakkean yang berfungsi sebagai tempat melaksanakan pembagian daging dalam upacara Rambu Solo’
- Simbuang yaitu batu yang berbentuk lonjong yang diarak dari tempat jauh, dan didirikan di sekitar tempat pelaksanaan upacara yang selain berfungsi sebagai batu peringatan bagi si mati sekaligus berfungsi sebagai tempat menambat kerbau yang akan dikorbankan pada upacara itu.
- Kandaure yaitu perhiasan dari manik-manik yang dicocok pada benang dan berbentuk corong, digunakan sebagai pelengkap kebesaran upacara Rambu Solo’ (juga dipergunakan dalam upacara Rambu Tuka’= pesta kesukaan).
- Daman yaitu sejenis kertas emas yang dipakai menghias peti jenasah sebagai pengganti emas, khusus bagi bangsawan menengah ke atas.
- Lantang (barung) yaitu pondok-pondok yang khusus dibuat untuk keperluan upacara Rambu Solo’. Apabila pondok itu jumlahnya banyak, maka tempat pelaksanaan upacara akan menyerupai perkampungan baru.

Kesenian
Dalam upacara Rambu Solo’, kesenian dan tari-tarian mempunyai arti yang dalam. Jenis kesenian dan tari-tarian yang mempunyai arti yang dalam, jenis kesenian dan tari-tarian yang dipentaskan dalam upacara Rambu Solo’, antara lain:
- Baddong yaitu nyanyian yang dilagukan dalam keadaan berdiri, yang disertai dengan gerakan tangan dan hentakkan kaki sambil berputar dalam kelompok yang membentuk lingkaran.
- Retteng yaitu nyanyian kedukaan yang dilagukan secara berbalas-balasan oleh dua orang atau lebih
- Dondi’ yaitu nyanyian yang dinyanyikan sekelompok orang secara berbalas-balasan.
- Marraka yaitu nyanyian kedukaan yang diiringi oleh seruling bambu
- Randing yaitu sejenis tarian perang yang disertai dengan hentakkan kaki dan pekikan suara oleh para penari pria. Randing hanya dilakukan pada pemakaman seorang lelaki yang dianggap pahlawan
Semua bentuk kesenian dan tari-tarian tersebut di atas dilakukan untuk mengekspresikan kedukaan yang mendalam karena kematian. Khususnya dalam badong, syairnya mengungkapkan sejarah perjalanan hidup bahkan pernghormatan terakhir pada yang meninggal dunia
Menurut kepercayaan aluk todolo semua nyanyian dan tarian yang digelar dalam upacara Rambu Solo’, merupakan proyeksi kemuliaan dari yang meninggal dunia dlam memasuki dunia seberang sana. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tarian dan nyanyian dalam upacara Rambu Solo’, selain merupkan ungkapan kedukaan dan penghormatan, juga merupakan “Simbol Kemuliaan” arwah seseorang memasuki dunia arwah.

Tau-Tau (patung)
Tau-tau (tau = orang) ialah patung atau arca yang berfungsi sebagai personifikasi dan seseorang yang meninggal dunia dan hanya diadakan dalam tingkat upacara Rambu Solo’ bagi golongan bangsawan menengah ke atas. Ada dua macam tau-tau atau arca yang dikenal yaitu tau-tau kayu dan tau-tau karurung
Untuk membuat tau-tau dibutuhkan pemahat khusus yang dikenal dnegan istilah Topande. Selama proses pembuatan topande harus tidur dekat atau di bawah kolong rumah jenasah disemayamkan. Setelah selesai tau-tau tersebut didirikan di dekat peti jenasah. Ia diperlakukan seperti orang hidup (diberi nasi, pakaian dan perhiasan). Pakaian dan perhiasan yang dikenakan itu menunjukkan status sosial si mati. Oleh karena itu, dikatakan Tau-tau adalah The Living Dead yang karenanya harus dihormati, disembah dan diratapi. Ia lebih dari sekedar arca biasa hasil karya seorang pemahat. Ia adalah penjelmaan dari si mati yang selama upacara berfungsi sebagai penghubung antara ornag yang masih hidup dan kaum keluarga kerabat yan telah meninggal dunia, dengan kata lain ia berfungsi sebagai pembawa titipan dari orang yang masih hidup kepada mereka yang telah meninggal dunia. Jadi dalam Aluk Todolo, Tau-tau mempunyai nilai religius dan sosial.

Rante
Rante (lapangan) adalah tempat penyelenggaraan upacara Rambu Solo’, khusus bagi kalangan menengah dan ke atas pada tingkatan dirapa’i. Di tempat ini dibangun sejumlah pondok berantai yang berfungsi sebagai tempat penginapan selama upacara berlangsung.

Erong
Pada zaman dahulu dalam masyarakat Toraja setiap golongan bangsawan menengah ke atas yang meninggal dunia dibuat peti jenasah yang disebut erong. Bentuknya menyerupai perahu yang diukir. Sedangkan untuk orang-orang merdeka/biasa hanya dibungkus dengan kain yang berlapis-lapis dan berbentuk bulat lonjong. Dari sini jelas terlihat bahwa jenis peti jenasah menunjukkan status sosial seseorang dalam masyarakat Toraja.

Hewan yang dikorbankan
Pemotongan hewan pada setiap upacara Rambu Solo’ harus didasarkan pada stratifikasi sosial. Tentang hewan yang dikorbankan dapat dilihat dalam tiga hal:
a. Jenis hewan
Untuk golongan bangsawan, khususnya untuk tingkat upacara (rapasan sundun ke atas) jenis hewan yang dipotong harus lengkap, yaitu kerbau, babi, anjing, kuda atau manusia (hambanya). Jadi, dari semua jenis hewan peliharaan, kecuali ayam dan kucing
b. Jumlah
Tentang banyaknya hewan yang dikorbankan kiranya sudah jelas dalam uraian sebelumnya (dalam tingkatan Rambu Solo’)
c. Tanda-tanda
Dalam setiap upacara Rambu Solo’, hewan yang dikorbankan khususnya kerbau harus didasarkan pada tanda-tanda. Secara umum kerbau dalam masyarakat Toraja diklasifikasikan dalam empat kelompok (kelas) sesuai dengan stratifikasi sosial, yaitu:
- Pudu/Balian.
- Saleko.
- Todi’.
- Sambao
- Sokko
- Pangloli
- Pudu Bara’
- Sambok Ra’tuk
- Lotong Boko .

Masih relevankah Rambu Solo’ beserta segala prasyaratnya pada konteks sekarang ini, di saat mana sebagian terbesar orang toraja sudah beragama. Semuanya terpulang kepada kita semua.....

Eddy Papayungan.

Jumat, 21 Maret 2014

BRIGJEN TNI (PURN) FRANS KARANGAN


Apakah anda pernah mendengar nama ini ?

Figur ini adalah pejuang Toraja pada zaman pergolakan gerombolan. Zaman gerombolan adalah zaman pemberontakan setelah kemerdekaan yang terjadi di Sulawesi Selatan.
Pemberontakan yang terbesar adalah diproklamirkannya Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) oleh Letnan Kolonel Kahar Muzakkar sbg pembangkangan kepada Pemerintah atas tdk di akomodirnya seluruh prajurit Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) yg dipimpinnya menjadi Brigade Hasanuddin, yg kemudian menjadi cikal bakal Kodam XIV Hasanuddin.
Hanya sekitar 30 % pasukan KGSS pimpinan Kahar Musakkar yg memenuhi syarat kemiliteran tertampung di Brigade Hasanuddin, di antaranya  Andi Selle dan  Andi Sose.  

1. Pemaksaan Agama oleh DI/TII:
Sesungguhnya gerakan yang dipimpin Kahar Muzakkar yang berlangsung sekitar 15 tahun (1950-1965) di Sulawesi Selatan, semula tidak membawa warna ideologi agama, namun kemudian setelah beralih menjadi gerakan DI/TII terjadilah gerakan islamisasi dengan paksa. “Tercatat  20.000 orang  pengungsi  hingga Akhir Oktober 1953 di Luwu dan pinggiran timur dan selatan Toraja akibat islamisasi” (tulis Terance W. Bigalke dlm bukunya Tana Toraja,
A Social History of an Indonesian People). Baik orang-orang Kristen maupun pemeluk agama asli menjadi sasaran serangan para gerilyawan. Terjadi banyak penculikan, pembunuhan, pencurian, dan insiden di mana desa-desa dibakar. Pemaksaan masuk Islam terjadi di setiap tempat tersebut, di wilayah barat daya Toraja sendiri mencapai beberapa ribu orang. Para pengungsi dari bagian utara dan barat Luwu mulai mengalir ke Toraja di tahun 1952,  dan mencapai puncaknya menjelang akhir 1953, mencapai sekitar 20.000 orang di kota Makale dan Rantepao” (Bigalke, 1981: Hal. 423).

Pada September 1953 Kahar mengeluarkan Piagam Makalua’, yang berisi dasar ideologis gerakan DI/TII. Salah satu poin penting dan kedengarannya baik dalam Piagam tersebut, ialah pernyataan bahwa kebebasan beragama dijamin tetapi hanya untuk agama Islam dan Kristiani. Tetapi apa yang baik di atas kertas, ternyata tidak dilakukan dalam praktek. “Dalam kurun waktu enam bulan semua orang, yang sebelumnya telah diberitahu untuk memilih antara Islam atau Kekristenan, dipaksa menyatakan diri masuk Islam” (Bigalke, 1981: Hal. 424). “Untuk mencapai tujuannya, yaitu mengislamkan orang-orang Kristen, maka mereka (para gerilyawan DI/TII) memisahkan tokoh-tokoh Kristen dengan anggota masyarakat biasa. Tokoh-tokoh Kristen ini disiksa amat sangat supaya mau masuk Islam. Sudah tentu sebagian dari mereka itu akan terpaksa mengaku masuk Islam dan mereka inilah diinstruksikan kembali mengajak orang-orang Kristen lainnya agar masuk Islam saja. Tetapi sebagian dari mereka itu tetap bersaksi bahwa walau dengan pedang sekalipun mereka tidak akan dipisahkan dari Tuhannya. Maka menyusullah syahid-syahid lainnya dalam Gereja Toraja, antara lain Pdt. J. Tawaluyan dan Lumeno, dan J.B. Tangdililing yang dibunuh di Palopo… Pdt. S.Tappil, Guru Injil Baso’ dan 8 orang Kristen Rongkong dibunuh di Masamba…Ds. P.Sangka Palisungan, L. Sodu dan H. Djima’ (keduanya pengantar Jemaat) dibunuh setelah mengalami siksaan yang hebat di Tjappa’ Solo’, berpuluh-puluh lainnya disiksa kemudian dibunuh di Rongkong, antara lain pengantar-pengantar Jemaat: J. Ledo, J. Subi’, Ngila, M. Maddulu, M. Liling dan lain-lain” (Sarira, 1975:45).
2. Kebangkitan kesadaran etnis tahun 1953
Di tengah gelombang ancaman pemaksaan agama oleh DI/TII, terjadilah peristiwa pada bulan April 1953. Andi Sose tampaknya kecewa karena merasa cita-cita perjuangan asli dalam KGSS telah digadaikan oleh Kahar dengan bergabung pada pemberontakan DI/TII pimpinan Kartosuwiryo di Jawa Barat.  Pada Maret 1952 Andi Sose bersama pasukannya berbalik haluan. Pasukannya dijadikan satu batalion TNI dengan nama “Batalion 720”, dan Andi Sose sebagai komandannya diangkat menjadi Kapten. Batalion ini ditempatkan di Tana Toraja. Tetapi tingkah laku anggota Batalion 720 lama-kelamaan membuat masyarakat merasa tidak aman dan mulai resah. Masyarakat mulai menyadari bahwa eksistensi etnis dan budaya Toraja kembali terancam. Situasi ini juga membuat unsur Toraja dalam Batalion 720, yaitu Kompi 2 di bawah Letnan Satu Frans Karangan, semakin menjauh dari Andi Sose. Diam-diam terbentuklah kelompok perlawanan yang memandang diri sebagai penjelmaan To Pada Tindo dari abad ke-17. Situasi genting semakin memuncak ketika tersiar berita bahwa Andi Sose berencana mendirikan mesjid raya di tengah kolam di kota Makale, dan memaksa orang-orang Kristen yang pergi ke gereja pada hari Minggu membawa batu kali ke lokasi itu. Akhirnya pecah konflik yang mencapai puncaknya pada pertempuran 4 April 1954 di Makale, di mana kelompok perlawanan berhasil memaksa Andi Sose dan pasukannya meninggalkan Tana Toraja kemudian diganti Batalio 422 dari Kodam Diponegoro (Bigalke, 1981:408-418). Bigalke menulis, “Sukses perlawanan 4 April itu menaikkan prestise pemimpin-pemimpin Kristen (Gereja Toraja) di Toraja, yang pada gilirannya menjelaskan insiden tersebut sebagai luapan kesadaran etnis. Kekalahan utama sesungguhnya dialami oleh kalangan elit tradisional di selatan (Tallu Lembangna) dan kelompok Muslim sekutu mereka di Makale, yang berpihak pada Andi Sose. Sejumlah dari mereka ini sementara waktu melarikan diri dari Toraja mengikuti pasukan yang mengundurkan diri” (Bigalke, 1981:416).
Kemudian Batalion 422 Diponegoro ditarik dari Toraja, dan digantikan oleh pasukan Brawijaya dari Jatim. Kompi 2 di bawah Frans Karangan ditempatkan di Palu, yang selanjutnya ditingkatkan menjadi Batalion 758 raider.

3. Peristiwa Tahun 1958:
Pada awal tahun 1958 masyarakat Toraja kembali dikejutkan oleh laporan bahwa pasukan Brawijaya akan ditarik dari Toraja untuk tugas memadamkan pemberontakan Permesta di Minahasa, dan akan digantikan oleh unit-unit R.I. 23, batalion yang dikomandani Andi Sose. Parkindo, partai politik utama di Tana Toraja waktu itu, mengutus delegasi ke Jakarta untuk memprotes penarikan pasukan Brawijaya. Sebuah resolusi bersama dari partai-partai politik di Toraja juga dikirimkan melalui Kepala Daerah kepada Gubernur Sulsel dan Mendagri di Jakarta. Tetapi semua itu gagal mencegah penempatan R.I. 23 di Tana Toraja. Masyarakat Toraja memandang hal ini sebagai penghinaan besar, dan bersiap menghadapinya. Frans Karangan, yang juga merasa khawatir, mengirim pasukan satu kompi di bawah pimpinan Lettu J. Pappang dari Palu ke Toraja. Begitu juga orang Toraja dari unit-unit lainnya dicutikan ke Toraja. Dengan alasan keamanan direncanakan pengungsian penduduk dari kota Makale dan Rantepao ke desa-desa yang aman. Tanggal yang dipilih untuk boikot itu ialah 20 Mei, Hari Kebangkitan Nasional. Ini antara lain untuk menyatakan kepada Pemerintah Pusat bahwa nasionalisme masyarakat Toraja jangan diragukan. Pada peristiwa 1953 simbolisme yang digunakan ialah perjuangan To Pada Tindo. Pappang membentuk apa yang disebut Barisan Komando Rakyat (BKR), yang terdiri dari anggota kompinya, OPD (Organisasi Pertahanan Desa), para pelajar dan penduduk, sebagai persiapan menghadapi serangan R.I. 23 yang dipastikan akan tiba. Setelah terjadi kontak senjata kecil-kecilan, BKR memakai taktik mundur penuh ke Pangala’. Pasukan R.I. 23 maju mengejar seakan-akan tanpa mendapat perlawanan, sambil membakar lumbung-lumbung desa, rumah-rumah dan sekolah-sekolah. Tersiar desas-desus bahwa para komandan R.I. 23 itu kebal peluru. Yang jelas organisasi mereka lebih unggul dalam hal disiplin dan persenjataan, dibandingkan dengan pasukan BKR yang serba kurang pengalaman bertempur dan persenjataan. Di Pangala’ BKR menghentikan taktik mundur. Pappang mereorganisir pasukannya, dengan mereduksi unit-unit tergabung yang telah bertempur tidak efektif ke dalam unit-unit terpisah: Polisi, OPD, penduduk, pelajar, dan kompinya sendiri. Pasukan R.I. 23 yang mengejar dan tiba di Pangala’ dalam keadaan letih tidak meyangka akan menghadapi perlawanan sengit. Pasukan BKR yang mengenal medan langsung memotong mereka dari belakang. Pertempuran sengit itu merupakan kemenangan besar pertama bagi BKR. Pasukan R.I. 23 yang masih tersisa mundur tak teratur, meninggalkan banyak senjata dan lebih dari seratus korban di pihaknya.

Setelah itu pasukan R.I. 23 tinggal terpusat di kota Rantepao dan Makale, dan pasukan BKR mengadakan tekanan terus-menerus atas mereka. Jalur komunikasi antara kedua kota itu berhasil diputus, sehingga tak ada bala bantuan yang bisa lolos dari Makale ke Rantepao. Akhirnya pasukan yang di Rantepao mengundurkan diri di tengah suatu malam gelap ke Makale lewat La’bo’ - Randan Batu - Sangalla’. Pasukan BKR, yang terlambat mengetahui pelarian itu, mencoba mengejar. Mereka masih berhasil mendapatkan dan menawan barisan belakang. Tiga hari kemudian semua unit R.I. 23 ditarik dari Makale dan meninggalkan Tana Toraja (lih. Bigalke, 1981:436-446).
4. Cikal-bakal Batalion Infanteri Lintas Udara 700/BS
Usai menumpas gerombolan Kahar Musakkar, Batalion 758 pimpinan Frans Karangan dijadikan Battalion Raider Indonesia Timur dgn sebutan Batalion 700/RIT pada tahun 1963. Pada tahun 28 Maret 1967 Batalion 700/RIT berdasarkan SK Panglima ABRI ditetapkan menjadi Batalion Infanteri Lintas Udara 700 BS hinga sekarang.

Atas jasa-jasanya itu patutlah apabila Brigadir Jenderal TNI (Purn) Frans Karangan disejajarkan dengan pendahulunya yaitu To Pada Tindo, To Misa’ Pangimpi yang dulu mengusir tentara Bone dari Tondok Lepongan Bulan, Tana Matari' Allo.

Kamis, 20 Maret 2014

SABUNG AYAM DI TORAJA


Sabung ayam di Toraja sudah dikenal jauh sebelum masuknya Kolonial Belanda pada tahun 1906 Masehi. Sabung ayam dalam budaya Toraja merupakan salah satu cara penyelesaian sengketa bagi pihak-pihak berselisih tentang perkara apa saja yang mereka tidak bisa selesaikan sendiri. Sabung ayam juga dilakukan sbg pemenuhan ritual kepercayaan (Aluk), yg mana bulu sayap ayam jantan diambil dan ditancapkan di “tuang-tuang” atau bentangan bambu-bambu kecil sbg simbol penolak bala pada acara “aluk rambu solo’ “. Istilah sabung ayam dalam peradilan masyarakat Toraja dikenal dengan “Si Londongan”. Tata cara peradilan sabung ayam (Si Londongan) diakui dan dianggap sah serta dihormati apapun keputusannya oleh masyarakat, walaupun tidak ada saksi-saksi dan alat-alat bukti lain seperti yang lazim di pengadilan modern. Proses peradilan ini dilaksanakan oleh Badan Dewan Adat masyarakat Toraja. Siapun yang kalah dalam pertandingan yang sudah disepakati bersama dan disaksikan oleh orang sekampung ini taat akan hasilnya. Tidak ada unjuk rasa, palagi anarki karena para pihak merasa hasil dari peradilan ini sudah yang paling adil. Namun dlm perkembangannya tradisi sabung ayam kemudian menjadi ajang taruhan di berbagai kesempatan dan pada berbagai tempat.

Untuk konteks sekarang ini, menurut anda apakah tradisi sabung ayam layak atau tdk dilegalkan di Toraja ???

Diposkan oleh Eddy Papayungan.

JEJAK LAKIPADADA DI BANTAENG DAN GOWA

Senin, 10 Maret 2014
Dikisahkan, sebatang pohon beringin yg umurnya entah sdh berapa ratus tahun hingga kini tetap kokoh menjulang di tengah kota Bantaeng, wilayah Kelurahan Pallantikang, di tengah makam keluarga raja-raja Bantaeng. Tepat di bawah beringin itu terdapat sebuah batu koral yg oleh masayakat setempat diberi nama “pappuniagang”. Batu memanjang mirip kepompong itulah yang dikisahkan berkait dengan sebuah nama yang juga adalah legenda beberapa kerajaan besar di jazirah Sulawesi, termasuk kerajaan Gowa, dimana Pahlawan nasional Sultan Hasanuddin pernah bertahta.
Secara turun temurun di Bantaeng dikisahkan seorang bangsawan toraja yg dirundung duka krn kematian ibu dan adik-adiknya lalu mengembara mencari mustika keabadian (Tangmate). Dalam mitos yg disepakati beberapa budayawan, salah satunya Prof DR. A. Zainal Abidin disebutkan bahwa Lakipadada yg “Sakti mandraguna” dalam perjalanannya bergelantung di kaki burung “Kuwajeng”, atau sejenis burung Garuda, lalu kemudian kawajeng menjatuhkannya di suatu Pantai. Dalam perjalanan selanjutnya, Lakipadada berjalan kaki menyusuri pantai hingga sampai ke Bantaeng. Kakinya dipenuhi tiram (terang-terang) krn lamanya ia berjalan, banyak gelaran Lakipadada, ia juga dijuluki “to tea ri jenne’ (orang yg berjalan di atas air) dan “manurungge ri jenne’ (orang yg turun ke atas air). Budayawan Sulsel, Prof Dr A. Zainal Abidin, memberikan analisis sejarahnya bahwa Lakipadada dalam mitos Bantaeng dikenal dengan nama KARAENG BAYO.

Dikisahkan lisan turun temurun, bahwa batu pappuniagang itu adalah tempat dimana Lakipadada turun ke bawah tanah untuk mengambil pusaka Karaeng Bantaeng. Pusaka itu sejenis tombak yang bergelar ba’bala ejayya, yang berbalut kain merah di pangkal mata tombaknya.

Tombak itu sebelumnya dipinjam Lakipadada dari Karaeng untuk berburu babi hutan. Dikisahkan, bahwa raja sangat menjaga tombak pusakanya, tetapi karena Lakipadada yang juga memiliki kesaktian melebihi manusia biasa itu berjanji akan menjaganya dengan baik, maka diberikanlah kepadanya.
Singkat cerita, acara berburu itu pun berlangsung. Seekor babi ketimban tombak Lakipada. Sial baginya, tombak yang sudah menancap di punggung babi itu di bawa lari masuk ke dalam tanah, tepat di bawah batu pappuniagang itu. Tentu Lakipadada heran dan juga khawatir raja bakal murka karena tombaknya hilang di telan bumi.
Lakipadada yang juga memiliki kesaktian luar biasa ternyata memegang komitmen. Ia pun masuk ke dalam tanah dan ditemuinya sebuah istana megah. Di luar Istana ia mendapati para perempuan menumbuk padi, Ia pun bertanya bagaimana caranya bertemu dengan Raja. Dengan wajah murung, perempuan itu pun berkata bahwa Raja sedang sakit. Tak seorang pun bisa menemui sang raja di pembaringan.
Tak kehabisan akal, Lakipadada menyamar jadi dukun. Pengawal istana kemudian mengizikannya untuk mengobati sang raja. Ia pun masuk ke bilik raja dan mendapati tombak ba’bala Ejayya tertancap di punggungnya. Ternyata Babi itu adalah jelmaan seorang raja yang bertahta di bawah tanah.
Sebelum mencabut tombak, ia kembali keluar dari peraduan raja yang kesakitan itu. Kepada pengawal yang berjaga, ia berpesan, “ Janganlah kalian kaget, saat kalian mendengar baginda berteriak. Itu pertanda obatnya bekerja”. Aha, akal cerdik Lakipadada berhasil. Ia tidak ingin pengawal kaget dan membunuhnya, karena menyakiti pasiennya saat mencabut tombak yang dipinjamnya.
Aneh, setelah mencabut tombak itu, raja pun sembuh. Oleh raja Ia diberi hadiah sebilah tombak yang mirip dengan Ba’bala Ejayya. Kembalilah ia ke hadapan Karaeng Bantaeng dan menyerahkan tombak itu. Tombak satunya ia pegang dan kemudian Ia bawa ke Kerajaan Gowa untuk petualangan selanjutnya. Tombak itu bukanlah mustika keabadian Tang mate yang ia cari hinga jauh dari tanah kelahirannya. Adapun tombak kembarannya, tetap sebagai pusaka kerajaan Bantaeng dan masih tersimpan sampai kini.
KARAENG BAYO DI GOWA

Menurut mitologi, sebelum kedatangan Tomanurung di tempat yang kemudian menjadi bagian dari wilayah kerajaan Gowa, sudah terbentuk sembilan pemerintahan otonom yang disebut Bate Salapang atau Kasuwiyang Salapang (gabungan/federasi). Sembilan pemerintahan otonom tersebut adalah Tombolo, Lakiung, Parang-Parang, Data, Agang Jekne, Bissei, Kalling dan Serro. Pada awalnya, kesembilan pemerintahan otonom ini hidup berdampingan dengan damai, namun, lama kelamaan, muncul perselisihan karena adanya kecenderugnan untuk menunjukkan keperkasaan dan semangat ekspansif. Untuk mengatasi perselisihan ini, kesembilan pemerintahan otonom kemudian sepakat memilih seorang pemimpin di antara mereka yang diberi gelar “Paccallaya”. Ternyata rivalitas tidak berakhir dengan kesepakan ini, karena masing-masing wilayah berambisi menjadi pemimpin Bate Selapang. Di samping itu, Paccallaya ternyata juga tidak mampu menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Hingga suatu ketika, tersiar kabar bahwa di suatu tempat yang bernama “Taka Bassia” di Bukit Tamalate, hadir seorang Puteri yang memancarkan cahaya dan memakai dokoh yang indah.
Mendengar ada seorang Putri di Taka Bassia, Paccallaya dan Bate Salapang mendatangi tempat itu, duduk tafakkur mengelilingi cahaya tersebut. Lama-kelamaan, cahaya tersebut menjelma menjadi wanita cantik, yang tidak diketahui nama dan asal-usulnya. Oleh karena itu, mereka menyebutnya “Tomanurung”. Lalu, Paccallaya bersama Kasuwiyang Salapang berkata pada Tomanurung tersebut, “kami semua datang kemari untuk mengangkat engkau menjadi raja kami, sudilah engkau menetap di negeri kami dan sombakulah yang merajai kami”. Setelah permohonan mereka dikabulkan, Paccallaya bangkit dan berseru, “Sombai Karaeng Nu To Gowa (sembahlah rajamu wahai orang-orang Gowa).
Tidak lama kemudian, datanglah seorang pemuda yang bernama Karaeng Bayo yg tdk lain adalah Lakipadada) membawa sebilah tombak. Paccallaya dan kasuwiyang kemudian mengutarakan maksud mereka, agar Karaeng Bayo dan Tomanurung dapat dinikahkan agar keturunan mereka bisa melanjutkan pemerintahan kerajaan Gowa. Kemudian semua pihak di situ membuat suatu ikrar yang intinya mengatur hak, wewenang dan kewajiban orang yang memerintah dan diperintah. Ketentuan tersebut berlaku hingga Tomanurung dan Karaeng Bayo menghilang, ketika anak tunggal mereka Tumassalangga Baraya lahir. Anak tunggal inilah yang selanjutnya mewarisi kerajaan Gowa.
(Referensi: Webcache, Noertika, googleusercontent, manukallodanga, lovelyindo)

Catatan :
Walau tak rasional, perlu diingatkan bahwa ceritanya ini hanyalah mitos, penanda sebuah peristiwa yang dilegendakan. Walau demikian, syarat sebuah mitos tentu dipercaya benar-benar pernah terjadi di masa lampau, setidaknya oleh yang empunya cerita ataupun pengikutnya.
Diposkan oleh Eddy Papayungan di 07.54